Sekali Lagi, Pep!

Pep Guardiola (Matthias Schrader/Associated Press)
Pep Guardiola (Matthias Schrader/Associated Press)

Siapa yang tidak tercengang dengan permainan Barcelona saat pertama kali ditukangi oleh Pep Guardiola pada 2008. Serta sejak kurun periode 2009 sampai 2012, Barca begitu mendominasi, baik di Eropa dan dunia. Gaya penguasaan bola yang diterapkan Pep bersama Blaugrana begitu indah untuk ditonton. Passing pendek satu dua dan bola yang melekat di kaki-kaki pemain Barca. Pep dialihposisikan dari Barcelona B dan dikenal dengan pengembangan pemain-pemain muda. Tapi Barca saat itu adalah tim yang sedang berkembang dan dengan kenyamanan bermain satu sama lain adalah salah satu kunci sukses tim yang bernaung di Camp Nou merengkuh 14 trofi bersama Guardiola.

Barcelona adalah tim dengan basis permainan penguasaan bola dan total football titisan Johan Cryuff. Dan Pep adalah bagian yang tidak terlepaskan dari Barca, baik sebagai pemain dan pelatih. Dia be

gitu dicintai publik Catalan, Pep begitu identik dengan Barca, begitu pula sebaliknya. Bayern Muenchen, pasca sukses meraih treble winner, serta permainan agresif warisan Jupp Heynckes kini sedikit demi sedikit berubah. Pep banyak dikritik oleh fans yang dianggap keliru dalam menerapkan taktik di kubu Bavaria. Walaupun sukses dengan double winner di musim perdananya, permainan Bayern terlihat monoton. Begitu pun di saat ini, Bayern sejatinya menunjukkan permainan yang baik di sejak awal liga bergulir, bahkan mengunci gelar jauh sebelum musim berakhir.

Bukan tentang menang dan kalah, tetapi Die Roten di bawah Pep kurang menunjukkan siapa Bayern sebenarnya. Menggeser posisi Philipp Lahm dari bek kanan menjadi gelandang adalah salah satu keputusan yang banyak dikritik. Sebagaimana diketahui, Lahm adalah pemain terbaik di posisinya. Lahm tidaklah jelek-jelek amat dimainkan di posisi tengah, tapi tidak cukup esensial di saat Muenchen punya sederatan gelandang yang lebih baik. Javi Martinez adalah contoh lain, di samping Bayern sedang mengalami krisis cedera. Tapi Pep kerap memainkan Javi di posisi bek tengah, yang mana dia adalah gelandang bertahan murni dan sangat vital saat era Jupp Heynckes.

Pep juga cenderung bermain dengan high line defense, yang begitu rawan saat menghadapi tim dengan counter attack cepat. Contohnya saat Bayern disingkirkan Real Madrid dan Barcelona di semifinal Liga Champions dua musim beruntun. Bahkan Bayern kalah dengan skor-skor besar. Bila diukur dengan tim Bundesliga, Bayern mendominasi rata-rata penguasaan bola. Rataan tersebut adalah 60% baik di Bundesliga dan Liga Champions.

Kultur sepak bola Spanyol dan Jerman begitu berbeda, dan menurut saya itu menjadi kesulitan untuk Pep dan Bayern sendiri dalam hal taktik. Bukan tentang masalah menang kalah dan gelar, tetapi ketidakcocokan itu sebenarnya ada. Bayern bisa saja memenangi Bundesliga, tetapi tidak menyenangkan hati fans dengan permainan yang kerap membuat khawatir. VfL Wolfsburg dan Borussia Moenchengladbach mungkin bisa menjadi tim yang bangga atas permainan mereka walaupun tidak meraih gelar musim ini (belum termasuk Wolfsburg Final DFB-Pokal). Kontrak Pep hanya tinggal satu musim lagi, bila Bayern masih bermain dengan taktik-taktik yang beresiko, pintu keluar adalah jalan terbaik bagi Pep.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s